Monday, September 22, 2014

KEINGINAN TALITA

Di sebuah rumah kecil, di sudut kota yang amat sangat aman hidup seorang gadis mungil bernama Talita. Gadis ini tinggal bersama ayahnya yang selalu bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Ibunya Talita telah meninggal dunia saat Talita masih balita. Setiap hari, Talita selalu merindukan ibunya. Setiap kali dia sedang rindu, dia selalu memeluk Bubu, boneka beruang dari ibunya yang diberikan saat Talita berulang tahun ke dua.
            Setiap malam, Talita memiliki kebiasaan untuk berbicara kepada boneka tersebut. Dia merasa bahwa boneka beruang itu selalu mendengarkannya dan selalu menemaninya. Selama ada Bubu, Talita tidak akan merasa kesepian. Seringkali, Talita berbicara tentang keinginannya yang menurut dia tidak mungkin terkabul.
            Suatu malam sebelum tidur, Talita bercerita kepada Bubu bahwa dia pernah melihat baju yang sangat cantik di toko dan dia sangat ingin memilikinya. Akan tetapi, ayahnya terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk membeli baju tersebut bersamanya. Lama kelamaan, Talita mengantuk dan dia tertidur sambil memeluk Bubu.
            Keesokan harinya, Talita bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak dan tiba-tiba muncullah sebuah kotak di atas meja belajarnya. Tentu saja Talita sangat terkejut tetapi dia tidak merasa takut. Perlahan-lahan Talita jalan menuju kotak tersebut dan membukanya. Ternyata, isinya adalah baju yang sudah diinginkannya sejak lama! Betapa senangnya Talita melihat baju tersebut.
            Gadis mungil itu teringat bahwa malam sebelumnya dia berbicara kepada boneka beruangnya. Mungkinkah Bubu yang mengabulkan permintaannya? Talita tidak sabar untuk membuat permintaan lagi kepada bonekanya nanti malam. Dia sangat girang hari itu ketika mengenakan baju barunya yang terlihat sangat cantik.
            Malam hari akhirnya datang dan Talita sudah bersiap untuk tidur. Tentunya, dia tidak melupakan boneka beruangnya. Mulailah dia berbicara kepada Bubu.
            “Bubu, jika benar kamu yang telah mengabulkan permintaan aku kemarin, bisakah kamu mengabulkan permintaanku lagi? Aku ingin pergi ke Disneyland dan bertemu dengan idolaku! Aku ingin sekali bertemu dengan Mickey Mouse.”  Talita terus berbicara tentang keinginannya tersebut sampai akhirnya dia terlalu menangantuk untuk bisa berbicara lagi dan tertidur.
            Keesokan harinya, Talita bangun tidur dan muncullah sebuah kotak berbentuk pesawat yang bisa dinaikinya. Talita segera lompat dari tempat tidur dan coba masuk kedalam kotak tersebut. Ternyata badan Talita bisa masuk! Tiba-tiba, muncul sebuah kalimat dibagian depan pesawatnya. Tulisan tersebut berbunyi, “Bayangkan tempat yang ingin kamu datangi!” Talita menutup matanya dan membayangkan keramaian Disneyland dengan segala atraksinya dan lagu yang membuat suasana gembira. Dalam sekejap, Talita membuka matanya dan dia sudah berada di tempat impiannya!
            Dengan gembira, Talita berjalan-jalan melihat tempat tersebut sekaligus mencari Mickey Mouse. Dia menemukannya di rumah Mickey Mouse sendiri! Setelah berbincang dan bermain dengan idolanya, Talita kembali ke tempat asalnya dengan menggunakan pesawat buatan tersebut. Sesampainya di rumah, pesawat tersebut menghilang.
            Tiba malam hari, dan lagi-lagi Talita meneritakankan keinginannya kepada Bubu. Keinginan terakhirnya ini adalah keinginan terbesar yang sangat dia harapkan akan dikabulkan.
            “Bubu, aku ingin bertemu dengan ibu lagi.” Kata-kata tersebut Talita ucapkan kepada Bubu. Setelah itu, dia langsung tertidur. Tak lama kemudian, Talita mendengar suara ibunya memanggil namanya.
            “Talita, ibu disini. Ibu akan selalu bersamamu dimanapun kau berada dan menjaga dirimu.”

            Talita terbangun dan ternyata itu semua hanyalah sebuah mimpi. 

Sunday, September 14, 2014

KEBAHAGIAAN

Matahari bersinar cerah di pagi yang begitu indah. Seorang lelaki bernama Abi terbangun dari tidurnya. Abi adalah orang yang kaya raya. Dia memiliki segala hal yang pasti diimpikan oleh banyak orang di dunia. Mobil termewah sudah dimilikinya, begitu juga rumah termewah yang sudah menjadi tempat tinggalnya. Akan tetapi, dia tidak pernah merasa bahagia. Abi hidup sendiri, hanya ditemani oleh pembantu pembantu yang bekerja di rumah mewahnya. Sehari-hari dia selalu cemberut karena merasa tidak bahagia.
“Bagaimana caranya aku bisa bahagia?” Pikirnya. Dia tidak memiliki teman ataupun sahabat karena semua orang yang dia kenal memilih untuk menjauhinya. Abi adalah orang yang hanya memikirkan diri sendiri, jadi tidak heran jika tidak ada yang menyukainya. Walaupun begitu, penampilan luarnya menarik. Dengan gaya rambut masa kini dan pakaiannya yang selalu bagus dan rapi, orang pasti akan tertarik untuk menjadi teman tetapi setelah kenal, mereka menjauh.
Setelah berpikir, Abi memutuskan untuk mengunjungi beberapa orang hebat yang menurut dia bisa membantu memecahkan masalahnya. Dia pergi ke rumah paman terdekatnya yang sudah lama tak dijumpainya untuk bertanya namun hasilnya sangat mengecewakan. Tetapi, Abi tidak berputus asa. Dia terus berusaha karena masih ada beberapa orang lagi yang ingin dikunjungi. Salah satunya adalah, teman ayahnya yang juga kaya raya. Sayangnya, hasilnyapun mengecewakan. Teman ayahnya berkata bahwa jika sudah memiliki harta yang melimpah, pasti sudah bahagia.
Abi mulai jengkel karena setiap orang yang dikunjunginya tidak bisa membantu. Untungnya masih ada satu orang lagi yang bisa dikunjungi. Dialah yang disebut Bapak Tua. Dia dikenal banyak orang sebagai seorang yang selalu memiliki jawaban untuk segalanya. Abi tidak ingin memiliki harapan yang tinggi karena takut kecewa. Dia bertanya, “Bapak, bagaimana caranya agar bisa bahagia?”
Bapak itu terkejut karena pertanyaan Abi lalu tersenyum. Abi sudah tidak sabar untuk mendapatkan jawaban Bapak Tua ini.
“Abi, bahagia itu datang dari perilaku kita sendiri. Jika kita tidak mementingkan diri sendiri, suka menolong orang lain, selalu bersyukur dan tidak sering mengeluh tentang apapun, pasti orang akan bahagia.” Setelah Abi mendengarkan jawaban Bapak Tua itu, dia terdiam seperti merenung. Dalam renungannya itu semua perbuatan yang pernah dia lakukan kembali dalam ingatannya. Dia menyadari bahwa jarang sekali dia melakukan perbuatan baik. Setelah itu, Abi berterima kasih kepada Bapak Tua dan segera kembali ke rumah mewahnya.

Sesampainya di rumah, matahari sudah terbenam. Abi merasa seperti orang yang berbeda. Dia tahu apa yang harus dilakukannya agar bahagia. Pada akhirnya, Abi tersenyum.