Thursday, January 22, 2015

KISAH LOLIK ANAK PERMAINAN

Oleh: Dean Padma

     Permainan telah menjadi aspek kehidupan yang penting bagi sebuah anak-anak, dimana setiap alat elektronik menjadi bagian hidup seseorang. Seorang anak pada abad itu hidup dan menikmati kehidupannya yang mewah. Segala sesuatu ia dapati hanya dengan berkata, mamah aku mau ini, mamah aku mau itu dan seterusnya. Anak ini bernama Lolik. Lolik seperti namanya adalah gabungan dari nama-nama permainan online yang sudah merajalela pada zamannya. Kehidupan Lolik itu sangat unik, permainan, permainan dan permainan, hanyalah itu tiada selain itu. Tanpa permainan dia bisa sakit. Tanpa adanya sebuah permainan dia tidak mau makan pada hari tertentu. Suatu saat dia pulang dari sekolah salah satu temannya menghampiri dan berkata:
      “Lol, mau pergi ga kamu? Makan gitu? Atau ke taman dekat rumah kamu deh setidaknya hehehe.”
     “Gak mau ah! Liat deh aku lagi sibuk!” jawab Lolik sambil mengacungkan smartphnone-nya yang terbaru.
     Temannya berlalu dengan sedih, ia tau kalau Lolik sedang sibuk dengan gadget-nya maka Lolik tidak akan dapat diganggu. “Pantas saja anak itu tidak ada teman” pikirnya dengan prihatin.

     Hari-hari Lolik lalui dengan rasa bangga pada permainan dan alat elektronik yang dimilikinya. Tugas-tugas sekolah, pekerjaan rumah dan lain-lain dilupakan olehnya. Orang tua Lolik sudah lelah, sudah merasakan gagalnya didikan mereka terhadap Lolik. Ibunda Lolik sungguh ingin melihatnya lulus dan mempunyai kehidupan yang normal dan mengerti akan tanggung jawabnya. Kenyataan berkejolak dari semua itu. Lolik hanyalah anak yang malas dan sibuk dengan permainan-permainan yang dimilikinya. Permainan mempengaruhi Lolik bagaikan seorang kawan setia dan sahabat yang akan selalu ada di sampingnya. Keesokan harinya disaat perjalanan pulang dari sekolah, Lolik bertemu dengan seorang pengemis yang meminta-minta uang. Lolik hanya membuang muka seakan-akan tidak peduli dengan pengemis itu. Pengemis berkata kepada Lolik “aku hanya memohon agar kamu memberikan uang mau itu sedikit atau banyak, buktinya saja kau bisa memiliki telepon genggam, alat elektronik lainnya, dan juga pakaian yang bagus kenapa sepeser koin pun tidak mau kamu bagikan?” kata sang pengemis. Lolik menjawab, “Ada urusan apa? Kamu bukan siapa-siapa saya, bukan permainan atau game saya, bukan orang yang belikan alat elektronik untuk saya, kalau begitu untuk apa saya membagikan uang kepada anda?” jawabnya. Hari sudah semakin sore dan menjelang maghrib, Lolik pulang dengan rasa kesal karena perbincangan tadi. Dia berfikir apakah dia yang salah? Sang ibu tidak biasa melihatnya seperti itu, gelisah dan sedih. Ibunda Lolik menghampiri Lolik dan mendengarkan semua yang terjadi padanya hari itu. Ibu menasehatinya untuk tidak selalu bergantung dan hidup berdampingan dengan permainan, itu hanya akan merusak diri kita sendiri. Semester 2 sekolah sudah mau selesai. Lolik akhirnya mencoba untuk mengubah dirinya dan mengajak teman-temannya untuk jalan sama dia. Dan tentu dia tidak lupa untuk meminta maaf kepada sang pengemis yang hatinya telah disinggung olehnya. Hidup memiliki banyak opsi, jangan bergantung pada satu hal, percayalah pada dirimu dan jangan pernah lupa tiada yang bisa mempengaruhi kita melainkan hal tersebut yang dapat mempengaruhi dirimu.

Saturday, January 10, 2015

HIDUP KIKO

Oleh: Dean Padma     

     Namaku Kiko. Aku adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang dianggap pintar dalam hal apapun. Matematika, Bahasa inggris, IPA dan lain-lain kulewati hanya dengan sekejap mata. Hidupku dipenuhi dengan cita-cita yang beragam. Awalnya aku tertarik menjadi seorang astronot dan pembuat pesawat oleh karena itu aku ingin menjadi seorang yang bekerja dalam bidang aerospace. Dengan berjalannya waktu, cita-citaku berubah keinginan untuk menerjang dalam bidang angkasa pun aku lupakan. Menjait menjadi cita-citaku yang selanjutnya. Aku melihat peluang yang sangat besar karena zaman ini telah mengalami perubahan dalam dunia mode. Suatu saat ayah membawaku pergi ke rumah mode. Rumah mode ini berisi pakaian-pakaian terbaru yang sering kali orang dari berbagai propinsi dating dan hadir di tempat tersebut dan memborong sebanyak-banyaknya kebutuhan mereka. Rupanya apa yang aku bayangkan menjadi seorang yang ahli dalam bidang mode ini sungguh adalah sesuatu yang benar.
     Akhir-akhir masa SMA-ku sudah mulai pudar. Teman-temanku sudah memilih jurusan-jurusan yang tepat bagi mereka. Banyak juga diantara teman-temanku yang sudah diterima dalam kuliah yang nomor satu dan kampus yang diminati. Kemana aku harus pergi? Mengapa hanya aku yang tidak memiliki tujuan yang pasti? Waktu sekolah tinggal sisa satu minggu. Percobaan baju toga sudah disiapkan dan diukur. Aku tidak ingin setelah aku melempar topi itu keatas, tujuanhidupku ini masih belum jelas karena keragaman cita-citaku. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk teman-temanku dan terutama diriku. Sungguh hidup ini tidak adil, mengapa hanya aku?
     Sekali-kali 3 hari mendekati hari wisuda, aku pergi dan menetap disuatu café seusai sekolah. Seperti biasa aku menggunakan wifi gratis yang cepat tidak seperti di sekolah dimana anak-anak berebutan untuk menggunakan internet dan belajar. Untung saja menggunakan handphone diperbolehkan. Kupikir-pikir teknologi memudahkan manusia, iya memang itu benar. Kenapa tidak aku menjadi seorang ilmuwan yang bisa membuat sesuatu yang baru? Iya, cita-citaku pun berubah dari menjahit menjadi seorang ilmuwan.
     Sehari sebelum wisuda ibu menanyakan aku “apakah kamu sudah siap nak untuk melanjutkan hidupmu diperguruan tinggi? Tanya ibu. “sudah bu” jawabku. Diriku sangat tidaklah jelas, cita-citaku berantakan. Semuanya kacau balau. Pulang sekolah pada hari terakhir itu aku bersama satu teman berjalan kearah café. “tintin” suara klakson”. Dalam hati aku berkata “aduh tidak celakalah temanku, biar aku saja yang menolong.
     Semua menjadi gelap. Pandanganku hilang dari dunia yang membingungkan ini. Beberapa jam aku sadar, temanku membawaku kerumah sakit. “Kiko, terimakasih banyak, kamu menolong aku, kamu lari dan memegang aku seakan-akan kamu mengorbankan nyawa kamu demi aku, aku bersyukur banget yang penting kamu baik-baik saja”. Aku hanya membalas sebuah senyuman puas kepada Emily. Emily memang sahabatku, akan tetapi karena kejadian itu, aku ingin sekali bekerja menjadi pengurus rumah sakit, menolong teman, orang tua dan akan sangat bermanfaat untuk seluruh kalangan manusia. Iya menjadi dokterlah cita-cita dan keputusanku.

     Saat wisuda aku datang menggunakan kursi roda karena kakiku agak sedikit terkilir. Namun semua itu tidak memutuskan harapan dan semangatku untuk datang kewisuda dan lulus melempar topi. Saat aku masuk semua orang ternyata mengetahui kejadian kemarin. Tepuk tangan diberikan untuk keberanianku. Satu hal penting yang aku ingat ialah, jangan pernah putus asa, ketika kita memang dalam kesulitan untuk memikir dan memtuskan, ingatlah inspirasi dan motivasi bisa dating dari mana saja.

Monday, September 22, 2014

KEINGINAN TALITA

Di sebuah rumah kecil, di sudut kota yang amat sangat aman hidup seorang gadis mungil bernama Talita. Gadis ini tinggal bersama ayahnya yang selalu bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Ibunya Talita telah meninggal dunia saat Talita masih balita. Setiap hari, Talita selalu merindukan ibunya. Setiap kali dia sedang rindu, dia selalu memeluk Bubu, boneka beruang dari ibunya yang diberikan saat Talita berulang tahun ke dua.
            Setiap malam, Talita memiliki kebiasaan untuk berbicara kepada boneka tersebut. Dia merasa bahwa boneka beruang itu selalu mendengarkannya dan selalu menemaninya. Selama ada Bubu, Talita tidak akan merasa kesepian. Seringkali, Talita berbicara tentang keinginannya yang menurut dia tidak mungkin terkabul.
            Suatu malam sebelum tidur, Talita bercerita kepada Bubu bahwa dia pernah melihat baju yang sangat cantik di toko dan dia sangat ingin memilikinya. Akan tetapi, ayahnya terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk membeli baju tersebut bersamanya. Lama kelamaan, Talita mengantuk dan dia tertidur sambil memeluk Bubu.
            Keesokan harinya, Talita bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak dan tiba-tiba muncullah sebuah kotak di atas meja belajarnya. Tentu saja Talita sangat terkejut tetapi dia tidak merasa takut. Perlahan-lahan Talita jalan menuju kotak tersebut dan membukanya. Ternyata, isinya adalah baju yang sudah diinginkannya sejak lama! Betapa senangnya Talita melihat baju tersebut.
            Gadis mungil itu teringat bahwa malam sebelumnya dia berbicara kepada boneka beruangnya. Mungkinkah Bubu yang mengabulkan permintaannya? Talita tidak sabar untuk membuat permintaan lagi kepada bonekanya nanti malam. Dia sangat girang hari itu ketika mengenakan baju barunya yang terlihat sangat cantik.
            Malam hari akhirnya datang dan Talita sudah bersiap untuk tidur. Tentunya, dia tidak melupakan boneka beruangnya. Mulailah dia berbicara kepada Bubu.
            “Bubu, jika benar kamu yang telah mengabulkan permintaan aku kemarin, bisakah kamu mengabulkan permintaanku lagi? Aku ingin pergi ke Disneyland dan bertemu dengan idolaku! Aku ingin sekali bertemu dengan Mickey Mouse.”  Talita terus berbicara tentang keinginannya tersebut sampai akhirnya dia terlalu menangantuk untuk bisa berbicara lagi dan tertidur.
            Keesokan harinya, Talita bangun tidur dan muncullah sebuah kotak berbentuk pesawat yang bisa dinaikinya. Talita segera lompat dari tempat tidur dan coba masuk kedalam kotak tersebut. Ternyata badan Talita bisa masuk! Tiba-tiba, muncul sebuah kalimat dibagian depan pesawatnya. Tulisan tersebut berbunyi, “Bayangkan tempat yang ingin kamu datangi!” Talita menutup matanya dan membayangkan keramaian Disneyland dengan segala atraksinya dan lagu yang membuat suasana gembira. Dalam sekejap, Talita membuka matanya dan dia sudah berada di tempat impiannya!
            Dengan gembira, Talita berjalan-jalan melihat tempat tersebut sekaligus mencari Mickey Mouse. Dia menemukannya di rumah Mickey Mouse sendiri! Setelah berbincang dan bermain dengan idolanya, Talita kembali ke tempat asalnya dengan menggunakan pesawat buatan tersebut. Sesampainya di rumah, pesawat tersebut menghilang.
            Tiba malam hari, dan lagi-lagi Talita meneritakankan keinginannya kepada Bubu. Keinginan terakhirnya ini adalah keinginan terbesar yang sangat dia harapkan akan dikabulkan.
            “Bubu, aku ingin bertemu dengan ibu lagi.” Kata-kata tersebut Talita ucapkan kepada Bubu. Setelah itu, dia langsung tertidur. Tak lama kemudian, Talita mendengar suara ibunya memanggil namanya.
            “Talita, ibu disini. Ibu akan selalu bersamamu dimanapun kau berada dan menjaga dirimu.”

            Talita terbangun dan ternyata itu semua hanyalah sebuah mimpi. 

Sunday, September 14, 2014

KEBAHAGIAAN

Matahari bersinar cerah di pagi yang begitu indah. Seorang lelaki bernama Abi terbangun dari tidurnya. Abi adalah orang yang kaya raya. Dia memiliki segala hal yang pasti diimpikan oleh banyak orang di dunia. Mobil termewah sudah dimilikinya, begitu juga rumah termewah yang sudah menjadi tempat tinggalnya. Akan tetapi, dia tidak pernah merasa bahagia. Abi hidup sendiri, hanya ditemani oleh pembantu pembantu yang bekerja di rumah mewahnya. Sehari-hari dia selalu cemberut karena merasa tidak bahagia.
“Bagaimana caranya aku bisa bahagia?” Pikirnya. Dia tidak memiliki teman ataupun sahabat karena semua orang yang dia kenal memilih untuk menjauhinya. Abi adalah orang yang hanya memikirkan diri sendiri, jadi tidak heran jika tidak ada yang menyukainya. Walaupun begitu, penampilan luarnya menarik. Dengan gaya rambut masa kini dan pakaiannya yang selalu bagus dan rapi, orang pasti akan tertarik untuk menjadi teman tetapi setelah kenal, mereka menjauh.
Setelah berpikir, Abi memutuskan untuk mengunjungi beberapa orang hebat yang menurut dia bisa membantu memecahkan masalahnya. Dia pergi ke rumah paman terdekatnya yang sudah lama tak dijumpainya untuk bertanya namun hasilnya sangat mengecewakan. Tetapi, Abi tidak berputus asa. Dia terus berusaha karena masih ada beberapa orang lagi yang ingin dikunjungi. Salah satunya adalah, teman ayahnya yang juga kaya raya. Sayangnya, hasilnyapun mengecewakan. Teman ayahnya berkata bahwa jika sudah memiliki harta yang melimpah, pasti sudah bahagia.
Abi mulai jengkel karena setiap orang yang dikunjunginya tidak bisa membantu. Untungnya masih ada satu orang lagi yang bisa dikunjungi. Dialah yang disebut Bapak Tua. Dia dikenal banyak orang sebagai seorang yang selalu memiliki jawaban untuk segalanya. Abi tidak ingin memiliki harapan yang tinggi karena takut kecewa. Dia bertanya, “Bapak, bagaimana caranya agar bisa bahagia?”
Bapak itu terkejut karena pertanyaan Abi lalu tersenyum. Abi sudah tidak sabar untuk mendapatkan jawaban Bapak Tua ini.
“Abi, bahagia itu datang dari perilaku kita sendiri. Jika kita tidak mementingkan diri sendiri, suka menolong orang lain, selalu bersyukur dan tidak sering mengeluh tentang apapun, pasti orang akan bahagia.” Setelah Abi mendengarkan jawaban Bapak Tua itu, dia terdiam seperti merenung. Dalam renungannya itu semua perbuatan yang pernah dia lakukan kembali dalam ingatannya. Dia menyadari bahwa jarang sekali dia melakukan perbuatan baik. Setelah itu, Abi berterima kasih kepada Bapak Tua dan segera kembali ke rumah mewahnya.

Sesampainya di rumah, matahari sudah terbenam. Abi merasa seperti orang yang berbeda. Dia tahu apa yang harus dilakukannya agar bahagia. Pada akhirnya, Abi tersenyum.