Permainan telah menjadi aspek kehidupan
yang penting bagi sebuah anak-anak, dimana setiap alat elektronik menjadi
bagian hidup seseorang. Seorang anak pada abad itu hidup dan menikmati
kehidupannya yang mewah. Segala sesuatu ia dapati hanya dengan berkata, mamah
aku mau ini, mamah aku mau itu dan seterusnya. Anak ini bernama Lolik. Lolik
seperti namanya adalah gabungan dari nama-nama permainan online yang sudah
merajalela pada zamannya. Kehidupan Lolik itu sangat unik, permainan, permainan
dan permainan, hanyalah itu tiada selain itu. Tanpa permainan dia bisa sakit.
Tanpa adanya sebuah permainan dia tidak mau makan pada hari tertentu. Suatu
saat dia pulang dari sekolah salah satu temannya menghampiri dan berkata:
“Lol, mau pergi ga
kamu? Makan gitu? Atau ke taman dekat rumah kamu deh setidaknya hehehe.”
“Gak mau ah! Liat deh aku lagi sibuk!” jawab Lolik sambil
mengacungkan smartphnone-nya yang
terbaru.
Temannya berlalu dengan sedih, ia tau kalau Lolik sedang
sibuk dengan gadget-nya maka Lolik
tidak akan dapat diganggu. “Pantas saja anak itu tidak ada teman” pikirnya
dengan prihatin.
Hari-hari
Lolik lalui dengan rasa bangga pada permainan dan alat elektronik yang
dimilikinya. Tugas-tugas sekolah, pekerjaan rumah dan lain-lain dilupakan
olehnya. Orang tua Lolik sudah lelah, sudah merasakan gagalnya didikan mereka
terhadap Lolik. Ibunda Lolik sungguh ingin melihatnya lulus dan mempunyai
kehidupan yang normal dan mengerti akan tanggung jawabnya. Kenyataan berkejolak
dari semua itu. Lolik hanyalah anak yang malas dan sibuk dengan
permainan-permainan yang dimilikinya. Permainan mempengaruhi Lolik bagaikan
seorang kawan setia dan sahabat yang akan selalu ada di sampingnya. Keesokan
harinya disaat perjalanan pulang dari sekolah, Lolik bertemu dengan seorang
pengemis yang meminta-minta uang. Lolik hanya membuang muka seakan-akan tidak
peduli dengan pengemis itu. Pengemis berkata kepada Lolik “aku hanya memohon
agar kamu memberikan uang mau itu sedikit atau banyak, buktinya saja kau bisa
memiliki telepon genggam, alat elektronik lainnya, dan juga pakaian yang bagus
kenapa sepeser koin pun tidak mau kamu bagikan?” kata sang pengemis. Lolik
menjawab, “Ada urusan apa? Kamu bukan siapa-siapa saya, bukan permainan atau
game saya, bukan orang yang belikan alat elektronik untuk saya, kalau begitu
untuk apa saya membagikan uang kepada anda?” jawabnya. Hari sudah semakin sore
dan menjelang maghrib, Lolik pulang dengan rasa kesal karena perbincangan tadi.
Dia berfikir apakah dia yang salah? Sang ibu tidak biasa melihatnya seperti
itu, gelisah dan sedih. Ibunda Lolik menghampiri Lolik dan mendengarkan semua
yang terjadi padanya hari itu. Ibu menasehatinya untuk tidak selalu bergantung
dan hidup berdampingan dengan permainan, itu hanya akan merusak diri kita
sendiri. Semester 2 sekolah sudah mau selesai. Lolik akhirnya mencoba untuk
mengubah dirinya dan mengajak teman-temannya untuk jalan sama dia. Dan tentu
dia tidak lupa untuk meminta maaf kepada sang pengemis yang hatinya telah
disinggung olehnya. Hidup memiliki banyak opsi, jangan bergantung pada satu
hal, percayalah pada dirimu dan jangan pernah lupa tiada yang bisa mempengaruhi
kita melainkan hal tersebut yang dapat mempengaruhi dirimu.